PANGERAN IMPIAN
Sore hari yang diiringi hujan rimis-rimis
kulangkahkan kakiku ketoko kecil di pojok kosanku, aku pergi untuk membeli
makanan karena persedian makan di kos sudah kosong. Aku pulang dengan wajah
yang agak kesal dengan banyaknya barang bawaanku tiba-tibah ada sebuah mobil
yang mendadak ngerem di depanku aku pun terkejut, dengan rasa yang bersalah
tiba-tiba sesosok pria tampan keluar dari mobil.
“mbk ngk papa
kan.?”
Tanyanya sembari menolongku mengambilli
barang-barang bawaanku, aku tertegun memandangnya hingga tak sadar aku jatuh
pingsan. Ketika kubuka mataku tiba-tibah aku berada di sebuah klinik dengan
pangeran yang menabrakku tadi
“kamu ngk
papakan.?”
Aku hanya bias menatapnya denga diam seribu
bahasa ditengah keheningan itu tiba-tiba seorang suster datang menghampiri kami
“mbknya suda
sadar apa ada yang dirasa sakit.?”
“sus dia ngak papakan.?”Tanya pria itu
“ngk papa mas
mungkin mbknya Cuma sok karena hampir ditabrak atau mbknya sok karena lihat
cowok ganteng.?”
Celoteh suster yang memeriksa itu sepontan
membuyarkan lamuunanku.
Seusainya aku
diperiksa aku pun diantar pulang olehnya hingga kedepan rumahku “beneran kamu
ngk papa.?” Tanyanya untuk meyakinkanku
“ngk aku ngk
papa.”
“yaudah aku
langsung pulang ya.”
“eh, ngk mampir
dulu.?” Tawarku sembari berharap dia mau mampir, yah untuk sedikit lebih
mengenalnya
“ngk aku langsung pulang saja, dah.!”
Akupun masuk kos
dengan rasa kecewa dan berbaring di ranjang sembari melamunkan wajahnya yang
tampan.
“dor, lagi apa
deb kok melamu sendiri, eh kenapa dengan jidat lo.?” Tanya santi, yah santi
adalah sahabat terbaik yang aku punya
“eh san aku
habis ketemu sama parengan yang gantengnya naudubilah.”
“ha, apa!”
“yah, pangeran ganteng”
“siapa,?
Dimana,? Dan gimana lo bias kenal sama dia.?”
“pertanyaan lo
banyak banget, nih ya semua gara-gara luka ini.”
“kok bias.?”
“udah jangan
banyak Tanya mau makan ngk lo.?”
“makan apa orang
di lemari lo ngk ada makanan.”
“oh, yaampun
ketinggalan di mobil pangeran ganteng tadi.”
Udah akibat kejadian itu semalaman aku puasa
yah ngk papalah mungkin itu puasa buat dapetin pangeran ganteng impian. Dan
pada keesokan harinya pagi-pagi buta seseorang mengetuk pintu kosku betapa
terkejutnya aku ternyata sang pangeran impian itu yang datang
“pagi, maaf
ganggu ini makanan kamu kemarin ketinggalan di mobil aku.”
“oh, yah
makasih.!”
“ngk disuruh
masuk nih.?”
“oh ya, silakan
masuk.”
Biasa aku salah
tingkah. Sejak saat itu aku mulai akrab dengannya dan mulai ada beni-beni cinta
diantara kita.
Tapi semua tak semulus jalan tol tiba-tiba
sajah Ibu menelpon dan menyuruhku untuk pulang kampung dengan sesegerah
mungkin. Dengan rasa penasaran akupun pulang dan setibanya di rumah saat makan
malam ibukuku bicara padaku
“nak, kamukan
udah gedeh udah waktunya kamu buat nikah, ibu dan bapak udah siapin jodoh yang
pantas buat kamu.”
Seketika aku
tersedak dan langsung segerah mencari alasan untuk menggagalkan perjodohan ini
“Debi kan masih kulia buk.” sangkalku
“kan kamu masih
bias kulia walau pun kamu dah nikah, yaudah setelah ini kamu langsung tidur ya,
besok calonya mau main kesinih.”
Betapa
terkejutnya aku hingga rasanya jantungku copot dan tak mau berdetak lagi.
Setelah makan malam aku lang sung menelfon stefen (nama pangeran pujaan itu)
dan betapa terkejutnya aku ternyata stfen juga dijodohkan oleh orangtuanya dan
dia tak bias menolaknya karena ini berkaitan dengan bisnis keluarganya, ahirnya
dengan berat hati kita putuskan untuk mengahiri kisah kita. Semalaman aku
menangis hingga pada pagi harinya mataku bengkak
“Deby kok belum
siap bentar lagi calonya datang, loh kenapa matamu bengkak kamu nangis
semalaman.?”
“ibu Debi ngk
mau dijodohi” kataku lirih
“jangan bilang
gitu dia calon yang tepat buat kamu, dicoba dulu kalo kamu benar-benar ngk
cocok kamu boleh mutusi dia.”
Riasan sudah
melekat ditubuhku hingga mata yang bengkak pun tak terlihat lagi dengan seyuman
yang terpaksa aku menemui dia, betapa terkejutnya aku ternyata dia adalah
pangeran pujaanku sendiri betul kata pepatah “jodoh tak akan kemana”
MISTERI SANDAL YANG HILANG
Azan
berkumandang saling bersahutan para warga desa pun mulai berbondong-bondong
pergi kemusolah desa.
“yogi, sudah
azan ituloh .!”
“yah,bu.!”
Sudah menjadi
kebiasaan di desaku setiap azan sudah dikumangkan semua aktifitas akan terhenti
dan semua warga akan pergi kemusholah terdekat. Siang itu tepatnya pada saat
waktu sholat zuhur misteri sandal yang hilang dimulai. Seusai sholat zuhur para
warga langsung bergegas untuk melanjutkan aktifitasnya tapi salah satu jama’ah
ada yang celingukan,
“ada apa pak.?”
“ini loh yok
sandal bapak hilang padahal sandal bapak baru beli.”
“yogi dan
temen-temen batu cariya pak.”
Aku mulai
meyusuri sudut sudut musholah tapi hasilnya nihil tak ditemukan jejak apapun.
Waktu sholat Asar pun telah tibah seperti biasa para warga datang dan seusainya
semua bergegas pulang tapi kejadian siang tadi terulang lagi sandal sala satu
jam’ah ada yang hilang.
“paman, cari
apa.?” Tanya yogi
“sandal paman
hilang yog, malah baru beli pas mau berangkat tadi lagi.”
Dan seperti
biasa yogi dan teman temannya membantunya untuk mencari tapi hasilnya nihil.
Hingga beberapa hari kejadian serupa terulang tapi anehnya sandal para jama’ah
yang hilang adalah sandal yang baru saja, dan akan hilang hanya pada waktu
sholat dhuhur dan asar selain waktu sholat yang lain sandal tak ada yang hilang.
Para jama’ah pun merasa resah karena sudah sepekan sandal di musolah hilang,
ahirnya para marbot masjid sepakat untuk merundingkan masalh ini ba’dah magrib.
Setibanya ba’dah mangrib semua jama’ah laki-laki tak ada yang pulang semua
berkumpul untuk menyelesaikan masalah yang meresahkan warga ini.
“yogi ayok
pulang.!” Ajak ibu
“nanti ajah bu
yogi ingin ikut rundingan.!”
“ya, nanti kamu
kesini lagi ikut rundingan sekalian kamu bawa jajan buat suguhan.” Ibu
meyakinkanku.
Itu sudah
menjadi tanggung jawab ibu ketika ada perkumpulan di musholah karena ayah ku
adalah ketua marbot musholah. Satu demi satu usulan warga muncul saat diskusi
dan ahirnya disepakati bahwa jama’ah akan dibagi dua kloter satu manjaga satu
jama’ah sholat itu menjadi kesepakatan bersama. Dan keesokan harinya itu telah
diterapkan tapi masih saja ada jama’ah yang kehilanagan sandal. Ini semakin
membuat pusing kepala ayahku, ahirnya ayah ingin semuah jam’ah berkumpul untuk
mendiskusikan ini semua.
“bagaimanah para
jama’ah yang dapat giliran jaga,? apa ada yang kalian curigai saat berjaga.”
Kata pembuka ayahku
“ngak ada
pak.ustad semua terkendali.” Jawab salah satu jama’ah
“lalu bagaimana
bias masih ada jama’ah yang kehilangan sandal.? Apa ada sesuatu yang kalian
curigai.”
“tak ada yang
aneh pak.ustad semua man saat kita jaga tak ada seorang pun yang berkeliaran
yang ada juga hanya ayam jago yang lagi cari makan.!” Celoteh sala satu jama’ah
Sontak celotehan
itu memecah keseriusan para jama’ah semua tertawa kecuali ayahku dia sangat
menganggap serius masalah ini. Sesampainya di rumah aku menyampaikan usulku
pada ayahku soal ideku dengan teman-teman untuk menyelesaikan misteri ini. Ayah
menyetujui ideku dan mempercayakan semua pada ku dan teman-teman. Saat azan
dhuhur berkumandang aku dan teman-teman berkumpul sejenak untuk melaksanakan
rencana ini ayah pun sudah memerintahkan agar penjagaan tidak dilaksanakan
lagi.
“arif apa kamu
suda beli sandal baru.?” Tanya
“sudah yogi”
jawab arif
“hamdan benangnya
mana.?” Pintaku pada Hamdan
Hamdan mendekat
kepadaku dengan membawa benang dan sandal baru yang diberi Arif. Rencana pun
dimulai. Sandal kita letakkan ditempat yang mudah untuk diambil, tepat seperti
dugaan kita seusai sholat sandal barau itu hilang, tapi tenang semua telah
diatur secara matang oleh Yogi besertakawan. semua jama’ah terdiam di depan
musholah dan Yogi beserta kawan mengikuti arah yang ditunjukkan benang yang
telah diikatkan pada sandal baru dan betapa terkejutnya mereka di semak-semak
dekat musholah dia menemukan ayam jago yang terlilit benang jebakan mereka dan
mereka menemukan tumpukan sandal baru para jama’ah yang hilang itu di dalam
semak-semak, mereka pun langsung memanggil para jama’ah untuk menghapiri dan
betapa lucunya ternyata pencuri sandal para jama’ah itu adalah ayam jago pak.
Karjo orang yang pertama kali kehilangan sandalnya. Tawa para jama’ah pun pecah
seketika.